Gamalama yang namanya diambil dari kata Kie Gam Lamo (negeri yang besar) itu sudah lebih dari 60 kali meletus sejak pertama kali meletus pada tahun 1538.

Erupsi yang menimbulkan korban jiwa setidaknya sudah empat kali terjadi, dan yang terbanyak terjadi tahun 1775. Kala itu, erupsi gunung melenyapkan Desa Soela Takomi bersama 141 penduduknya. Pascaletusan, di lokasi desa yang berjarak 18 kilometer dari pusat Kota Ternate itu muncul dua danau, yaitu Danau Tolire Jaha dan Tolire Kecil.

Erupsi terakhir dari gunung yang namanya kemudian diadopsi oleh artis Dorce Gamalama itu terjadi tahun 2003. Letusan tidak besar, tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan. Namun, selama setidaknya satu pekan, abu menutup langit Ternate. Bandar Udara Sultan Babullah, bandar udara utama pintu masuk ke Maluku Utara, ditutup, sebagian masyarakat pun memilih mengungsi ke Tidore, pulau terdekat dari Ternate.

Setelah letusan itu, Gamalama tampak diam. Namun, sejak tahun 2009, Gamalama kembali menunjukkan aktivitas. Petugas Pos Pengamatan Gunung Gamalama Darno Lamanek mengatakan, sejak tahun 2009, status Waspada diberlakukan pada gunung tersebut mengacu pada aktivitas gunung yang meningkat.

Status Waspada merupakan level ketiga dalam kewaspadaan gunung berapi aktif. Kemudian baru Senin dini hari, status itu naik menjadi level kedua, Siaga.

Aktivitas gunung yang tak pernah tidur itu pula yang memunculkan tradisi Kololi Kie, yang kini digelar rutin setiap bulan April, sebagai salah satu pertunjukan dalam Festival Legu Gam, pesta rakyat Maluku Utara. Sebuah ritual tradisional masyarakat sejak zaman dahulu kala untuk mengitari Gamalama sambil mengunjungi sejumlah tempat dan makam keramat, yang salah satu tujuannya berharap agar Gamalama tidak meletus.

Meski Gamalama tidak pernah berhenti bergolak, hal itu tidak sama sekali menghentikan denyut kehidupan 185.705 warga Ternate di kaki dan punggung Gunung Gamalama. Yang terjadi justru sebaliknya, jumlah penduduk terus bertambah. Laju pertambahan penduduk setiap tahun mencapai 4,72 persen atau sekitar 8.000 orang.

Bangunan-bangunan baru pun terus bermunculan. Ternate yang merupakan pintu masuk ke Provinsi Maluku Utara memungkinkan semua ini terjadi