Masih ingat dengan dodorobe?, sem?, benteng?, kasti? dan baramasuen?

Sekedar mengingatkan aja, Berikut dibawah ini adalah ragam permainan rakyat Maluku Utara yang dulu2 N sampe sekarang masih ada. Lady’s & Gentleman please welcome ……………..

DODENGO

Dodengo adalah pertarungan satu lawan satu. Permainan dodengo mirip dengan tarian perang (cakalele), biasanya permainan ini di adakan pada waktu selesai shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Dodengo merupakan pra-pelatihan untuk melatih dan menguji ketangkasan dan kelincahan seseorang. Umumnya permainan ini hanya di mainkan oleh laki-laki. Alat yang di gunakan yaitu perisai (salawaku) dan sepotong gaba yang panjangnya 50 cm. Kedua alat tersebut berfungsi sebagai alat penangkis dan pemukul. Selain itu, pertandingan dodengo di iringi dengan bunyi-bunyian tifa dan gong. Cara bermainnya yaitu satu orang pemain berhadapan dengan satu pemain lainnya dan masing-masing saling memperlihatkan kelincahan dan ketangkasannya dalam menjatuhkan lawannya dengan cara memasukan pukulan gabanya ke kepala atau pundak lawan. Satu kali permainan kurang dari 10 menit sedangkan untuk perhitungan angka kemenangan, pemain di saring dengan putaran bertarung dengan cara menghitung angka yang teranyak di juarakan.

2. DODOROBE

Dodorabe berarti tembak-menembak, biasanya di mainkan oleh anak-anak dan remaja. Permainan ini di laksanakan hanya pada saat musim jambu air karena jambu yang masih kecil itulah yang menjadi peluru senjata dodorabe tersebut. Alat yang di gunakan terbuat dari ruas bambu yang lubang dalamnya maksimal garis tengah 1 cm. Pangkal ruasnya yang berbuku di pakai sebagai gagang bilah pendorong peluru seperti yang dapat di lihat pada gambar berikut:

Seruas bambu laras

Falfuji

Cara bermain: Pemain dodorabe terdiri atas dua kelompok, masing-masing lima orang. Keduanya berhadapan dengan jarak 2 m dan jarak ke belakang dari kelompok tersebut 3 m sebagai garis penalti (garis mati). Apabila salah satu anggota kelompok ketika di serang lawan mundur melewati garis mati, maka ia di nyatakan gugur (tidak lagi turut bermain), tinggal anggota yang tersisa yang melanjutkan permainan sampai di nyatakan juri selesai. Kelompok penyerang tidak di perkenankan memasuki garis mati. Kalau demikian, ia di beri peringatan, dengan cara di berikan kartu kuning. Kelompok di nyatakan menang apabila ia tidak mundur sampai ke garis mati atau sisa kawannya masih lebih banyak ketika juri mengisyaratkan waktu bermain telah habis.

3. GOLE-GOLE

Gole-gole berarti kelincahan tendangan silat tempurung dengan belakang kaki. Golegole ini permainan tradisional yang di mainkan oleh remaja muda-mudi. Biasanya permainan ini di adakan, apabila ada sesuatu acara yang menghendaki bantuan muda-mudi untuk menolong mengukur (memarut) kelapa dalam jumlah banyak. Seusai membantu mengukur kelapa, terdapat banyak tempurung (batok kelapa). Oleh muda-mudi ini, tempurung itu di gunakan untuk memainkan gole-gole. Cara bermain: Gole-gole di mainkan oleh dua kelompok, masing-masing lima orang. Untuk mencari kelompok yang akan memulai permainan itu, di adakan suten (pengundian dengan unjuk jari) oleh kapten dari dua kelompok. Kelompok yang menang suten itulah yang memulai permainan. Di depan ke lima pemain itu, berjarak 7 m, tertumpuk 5 tempurung dengan jarak samping tempurung 2 m. Masing-masing pemain menghadapi tumpukan tempurungnya dan dia harus menembak tempurungnya ke tumpukan di depannya dengan tendangan silat belakang kakinya. Di haruskan ke limanya menembakkan tempurungnya. Bila kena pada sasaran, maka di hitung 5 punt (angka) dan mereka harus melanjutkan permainannya pada babak ke dua. Apabila hanya 1 orang saja yang pada waktu menembakkan tempurungnya kena, maka hanya di hitung 1 punt dan kesempatan waktu di berikan pada kelompok ke 2. Jika babak pertama tadi telah dapat di selesaikan oleh salah satu kelompok, mereka akan melanjutkan permainan ke babak ke 2, yaitu kelima pemain tadi menghadapi salah satu tumpukan tempurung yang di tengah berarak 2 meter. Di atas tumpukan tempurung tersebut di letakkan sesuatu yang harus di jatuhkan oleh salah satu pemain. Jika babak ini dapat di selesaikan dengan baik, permainan berlanjut pada babak ke 3. Kelima pemain yang telah menyelesaikan kedua babak tadi berhadapan dengan kelima pemain lawannya, yaitu dengan mengetuk tumpukan tempurung tersebut sambil lari menembus garis hadangan lawannya, dengan tidak sedikit pun salah satu dari anggota badannya tersentuh lawan. Apabila tubuh mereka dapat di sentuh (tek) oleh lawannya, maka di nyatakan bou. Bou ini dapat di tembus jika kawannya yang tidak tersentuh oleh lawannya kembali pada babak pertama tadi dengan menendangkan tembakan tempurungnya pada tumpukan tempurung dan kena, maka tertembuslah bou kawannya dan puntnya tidak di hitung.
• Babak pertama mencari 5 punt
• Babak kedua mencari 1 punt
• Babak ketiga mencari 5 punt
Kelompok yang di anggap menang ialah mereka yang mengumpulkan puntnya pada babak pertama tidak mengulang atau terhitung pada sedikit atau banyak pengulangan. Begitu juga pada babak kedua, berapa orang yang tembakannya tepat. Pada babak ketiga, semua lolos dari bou atau berapa bou. Dari ketiga babak itu, di tambahkan angka puntnya menurut waktu dan kesempatan. Syarat ini di tetapkan sebelum pertandingan oleh juri.

4. BARAMASUEN

Baramasuen adalah permainan yang di mainkan oleh minimal 5 orang dan maksimal sepanjang bambu yang di gunakan, selain itu juga terdapat seorang yang menjadi pawang dalam permainan ini yakni pawang. Pawang inilah yang nantinya mengerahkan dan mengendalikan serta membuat permainan ini menjadi seru karena memiliki kekuatan jampi-jampi untuk membuat sebuah bambu menjadi gila maka seluruh peserta dalam permainan ini harus melawan atau menenangkan bambu ini. Cara bermain: Untuk melaksanakan permainan ini peserta di haruskan memegang bambu yang sudah di sediakan dengan kedua tangannya yang emudian di letakkan di depan dada (seperti memeluk bambu dengan kedua tangan). Kemudian pawang akan mulai membacakan lampi-jampinya untuk membuat bambu menjadi gila. Saat bambu mulai menggila, peserta harus segera bersiap melawan arah gerak bambu ini dan harus mendengar intruksi dari dari pawang misalnya pawang menatakan kekiri maka harus di arahkan ke kanan bambunya dan sebaliknya.

5. SEM

Permainan ini di mainkan oleh 2 kelompok yang terdiri lebih dari 4 orang tergantung dari panjangnya garis yang di sepakati. Peraturan permainannya adalah orang yang menjaga pertahanan tepat di empat garis yang berlainan arah dan merentangkan tangan mencoba menyentuh lawannya untuk mengurung lawan tersebut di dalam garis untuk memenangkan pertandingan sampai setiap anngota lawan terkumpul di dalam garis yang berbentuk empat garis. Dan hal itu terjadi berulang-ulang untuk berusaha memenangkan permainan. Permainan ini biasa di mainkan pada bulan suci Rhamadhan setelah selesai makan sahur.

6. BENTENG

Benteng adalah permainan yang terdiri atas dua kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari minimal 2 orang dan maksimal 10 orang. Setiap orang dari 2 kelompok tersebut harus menginjak bentengnya. Benteng di sini adalah batu yang di letakkan di daerah setiap regu yang ukurannya sedang-sedang saja. Permainan ini di mulai dengan suten. Kelompok yang kalahlah yang memulai untuk mencari umpan pada kelompok yang menang lalu di kejar oleh anggota kelompok lainnya. Setiap kelompok harus mempunyai 2 batu. Satu batu untuk benteng dan satunya lagi untuk tahanan yang mana pada saat saling mengejar dan ada yang tertangkap maka ia akan di tempatkan di batu tersebut yang letaknya tak jauh dari benteng kelompok yang menangkapnya. Jika salah seorang anggota dapat menginjak benteng lawan maka permainan akan di menangkan oleh kelompok tersebut karena mereka telah berhasil menguasai benteng lawan. Konon permainan benteng ini terinspirasi ketika para penjajah dari Eropa berusaha menguasai daerah jajahannya di Maluku Utara yang mana mereka mendirikan benteng-benteng pertahanan. Pada saat terjadi pemberontakan maka para pemberontak akan di masukan ke penjara.

7. KASTI

Kasti adalah permainan yang terdiri dari 2 kelompok yang tidak terbatas jumlah anggotanya. Alat-alat yang di gunakan yaitu sebuah bola dan pemukul bola (kayu atau balok) yang berukuran kira-kira ½ m. Sarana yang di gunakan yaitu lapangan yang di dalamnya terdapat 3 tiang dan dua kotak yang sudah di beri garis. Cara bermain: Salah seorang berdiri pada kotak satu sedangkan salah seorang berada pada kotak dua untuk melemparkan bola untuk di pukul. Setelah selesai memukul bola, anggota tersebut harus menuju ke antara 3 tiang yang ada dan kembali lagi ke tempat semula. Apabila bola yang di pukul tadi belum juga berada balik ke lapangan.

Mungkin itu saja yang bisa saya kasih tahu Mohon maaf klo tdk dlengkapi deng gambar.Sekian dan terima kasih

Sumber : http://bacalepo.multiply.com/journal/item/4