Locator_malut_finalMoro adalah legenda di halut, kalau kita berbicara mengenai moro, maka konotasinya pada hal-hal yang mistis seperti banyak cerita yang berkembang di masyarakat halut.

Nah untuk cerita mistis, kita tara punya informasi. Mungkin obata yang lain punya, nanti silahkan berbagi. Jadi di posting ini saya akan bercerita mengenai Moro dari sudut pandang sejarah. Oleh karena itu, saya mengutip sekelumit tulisan dari John Villiers (Modern Asian Studies, Vol. 22, No. 3) yang dipublikasikan oleh Professor Charles Boxer, Cambridge University Press (1988). Data dari tulisan tersebut berkisar pada tahun 1546-I571.

Berikut ini adalah yang bisa saya bagikan dari sumber yang ada:

Ngaji.. ngaji moi….

Tede….

Terminologi bahasa portugis ‘O Moro’ digunakan untuk mendefiniskan dua kesatuan wilayah, yaitu:
Wilayah pertama disebut sebagai Morotia atau Moro daratan (Moro-on-the-land), yang membentang sepanjang pantai timur dari semenanjung utara pulau halmahera dimana di dalamnya di sebutkan sebagai wilayah yang termasuk ke dalam 5 kota kecil (sumber aslinya menyebutkan “town”=kota kecil) yaitu: Galela, Puni, Tolo, Tobelo dan Samafo.

Wilayah kedua disebut sebagai Morotai atau Moro yang ada di seberang lautan (Moro- beyond-the-sea). Yang termasuk dalam wilayah ini adalah pulau Morotai dan pulau Rau. Pada waktu itu, wilayah yang paling padat penduduknya adalah di kota Tolo.

Moro ini pada saat itu (1546-1571), telah menjadi wilayah yang diperselisihkan antara Ternate, Tidore dan Jailolo.

Ternate, Tidore dan Jailolo pada waktu itu merupakan negara-negara (kesultanan) yang saling berselisih di wilayah tersebut.
Sumber dari perselisihan antara lain disebabkan karena wilayah Moro ini merupakan sumber bagi suplay bahan makanan. Selain permasalahan tersebut, wilayah ini menjadi penting karena posisi strategisnya yang harus direbut untuk menghadapi perang dengan Portugis.

Sumber : http://halmaherautara.blog.friendster.com/category/asal-usul/