diamMembaca dan menghafal, seperti apa yang diinstruksikan para guru adalah sebuah alur paradigma Imperium Kapitalis dimana kita dijajah oleh sebuah sistemik dalam kurikulum pendidikan. Tanpa menyeleksi apa semua modul pendidikan itu, cocok atau tidak dengan kondisi kita hari ini. Inilah penyakit sentralisme yang sudah lama ‘membantai’ pendidikan kita (one size fits all). Padahal, ada banyak nilai budaya lokal yang mesti dipelajari.

Metode yang sama, kita alami sampai di sekolah menengah. Anak-anak dipaksa menghafal mulai dari formulasi sejarah sampai soal-soal ujian nasional. Bahkan, pada tingkat universitas pun (maha)siswa masih terjangkit oleh metode penghafalan di luar kepala seperti teori-teori agama, sosial, ekonomi dan moral.>>

Kita dipaksa menghafal kata per kata. Tanda koma dan tanda petik pun harus dihafal di luar kepala. Tapi, anak-anak tergagap-gagap ketika berhadapan dengan masalah faktual-sosial yang terjadi di sekelilingnya. Tidak heran mereka mudah shok, diam, beringas bahkan tercebur dalam aneka tindakan asosial.

Tidak ada salahnya sistem pendidikan menghafal. Tapi, ia tidak banyak membantu kita. Memori otak kita, juga perlu mengembangkan pencerdasan analitik-kritis. Kita mesti dilatih untuk berpikir kritis. Bagaimana mengoneksi teori yang dipelajari dengan pengalaman nyata setiap hari. Ini PR besar untuk kita.

Paul Freire, seorang pendidik sekaligus ‘hero’ yang terkenal di masyarakat lapisan bawah di Brasil mengembangkan teorinya “Dialogical vs Banking System”. Menurut The Hero of the Poor ini, sistem dialog dalam mendidik kaum miskin sangat penting. Dan, sistem ini berhasil ‘dikawinsilangkannya’ di Brasil.

Peserta didik dilatih untuk berbicara dan membagi pengalaman hidup dalam kelompok. Semua berpartisipasi dalam diskusi. Peranannya hanya sebagai fasilitator dan berbicara sedikit dan peserta lebih diberi banyak kesempatan untuk mengungkapkan dan mengolah ilmu pengetahuan (knowledge) menjadi pengetahuan (knowing).

Sistem ini sangat efektif dibandingkan dengan banking system. Di mana peserta didik hanya mendengar dan menerima saja, apa yang guru jelaskan dari buku. Guru mendeposito apa yang dia tahu dari buku dan murid disuruh menghafal. Akibatnya, dari luar murid-murid terkesan encer, tapi lembek jiwanya.

Guru lebih banyak berbicara, anak-anak diam dan menghafal apa yang disampaikan guru dan yang tertulis di buku. Tidak ada waktu untuk diskusi tentang apa yang mereka pelajari dan koneksinya dengan pengalaman hidup.

Anak-anak jadi pasif, diam sampai pelajaran selesai. Anak-anak tidak dilatih untuk berpikir kritis. Mereka dididik untuk menjadi burung beo. Anak-anak yang punya memori kuat dipuji-puji. Sebaliknya, anak yang punya memori lemah dicacimaki dengan dikatain bodoh, bebal, bahkan ditendang dari sekolah.

Pendidikan seperti ini membuat kita menjadi tidak kreatif dan kontraproduktif. Klimaks dari output pendidikan banking system ini adalah orang juga jadinya diam di tengah masalah sosial. Masah bodoh dengan masalah yang mendegradasi kualitas hidup sosial seperti kasus korupsi, ketidakadilan et cetera.

Mereka diam saja dan bahkan memersalahkan diri sendiri kalau tidak ada listrik, tidak ada rumah sakit/klinik, tidak ada lapangan pekerjaan, sekolah mahal dan jalan raya tidak ada, air minum susah dan semua jenis kemelaratan lainnya. Padahal, setiap orang punya hak untuk punya rumah yang baik, listrik, sarana tranportasi bagus, pendidikan bermutu, sarana rumah sakit lengkap. Mereka diam di tengah keadaan seperti ini. Dan, sebagian besar berpikir bahwa “diam” adalah sudah bagian dari pendidikan yang harus diterima dan dibelajari.

Kebudayaan seperti inilah yang harus dirangsek menurut Paul Freire. Sistem dialog sangat efektif, mereka ditantang untuk berbicara dan berkonfrontasi dengan situasi apapun dan melihat alasan utama di balik semua kejanggalan ini.

Untuk mengubah budaya diam, yang sudah lama mengerangkeng dalam komunitas orang miskin, butuh waktu dan proses yang lama. Mereka harus dilibatkan dalam proses mengatasi masalah, yang memengaruhi kualitas hidup sosial lewat analisis dan program konkret.

Salah satu jalur formal, untuk menumbang budaya diam dan jiplak-hafal adalah rombak model pendidikan. Pendidikan kita mulai dari TK sampai universitas semestinya mengembangkan pendidikan dialogal kritis. Bukan hanya murid yang dituntut kritis, tapi guru juga mesti kritis. Kalau guru saja, masih ajar ini Budi, ini Ibu Budi dst. Mau apa diharapkan guru mandek seperti ini. Lebih baik tidak usah diberi gaji, guru yang malas-malasan dan capurado seperti ini.

Banyak program pemerintah dan lembaga swadaya juga yang tidak melibatkan masyarakat kecil dalam penyelesaian masalah sosial adalah impak dari output pendidikan sentralisme (banking system). Kita perlu babat mental pendidikan seperti ini. Output pendidikan ini, yang memanefestasi aneka kejahatan moral dan sosial yang memagut kita beberapa dasawarsa terakhir ini.

Pendidikan sentralisme ini menjadikan masyarakat dibiasakan untuk bergantung kepada projek atau individu (kultus projek/individu). Apalagi, sekarang kita dipeningkan oleh pemilu lokal dan nasional. Ada banyak proyek siluman, yang memagneti rakyat terperosok dalam kultus individu dan partai.

Ketika moment pengultusan individu, partai dan organisasi mencekoki dan membabibuta menyergap masyarakat pada umumnya, sebenarnya sebuah isyarat petaka keompongan pendidikan kita, sudah jatuh tersungkur di stadium yang mengerikan. Pendidikan banci dan mandul!

Oleh karena itu, jika anak-anak HIPMMU Bandung mau maju, jangan tanyakan kepada orang Jakarta atau Amerika. Tanyakan dan berdialoglah dengan orang HIPMMU Bdg sendiri. Cintailah nama, makanan, lagu, cerita, busana, filosofi dan budaya Maluku Utara lewat medium HIPMMU Bdg! Bangkitlah Maluku Utara! Dari mana mulainya? Pendidikan, pendidikan dan pendidikan! *

Oleh : Mr. Primitif