Pendidikan bisa didapat di mana saja, baik itu secara formal (kampus/sekolah/kursus dan lain-lain) maupun yang informal misalnya pelajaran yang didapat dari keluarga dan masyarakat sekitar. Bahkan bisa kita temukan dimana saja tentang pendidikan (alam raya sekolahku)
Koentjoroningrat mengatakan : Tiap hari dalam hidupnya (manusia) berlalu, bertambahlah pengalaman mengenai bermacam-macam perasaan baru, dan belajarlah ia merasakan kegembiraan, kebahagiaan, simpati, cinta, benci, keamanan, harga diri, kebenaran, perasaan bersalah, dosa, malu dan sebagainya. Kecuali perasaan-perasaan tersebut, juga berbagai macam hasrat, seperti hasrat untuk mempertahankan hidup, untuk bergaul, untuk meniru, unrtuk tahu, untuk berbakti, untuk keindahan, dipelajarinya dalam internalisasi menjadi milik kepribadiannya. (Koentjoroningrat, 1990).
Bagaimana dengan dengan media Indonesia khususnya telivisi sebagai alat komunikasi massal, benarkah pengajaran yang kita terima dari media telivisi sungguh berguna bagi kita. Mari kita lihat bersama.

Bulan Agustus tahun 1962 adalah bulan kelahiran televisi di Indonesia, siaran televisi yang dinikmati oleh masyarakat pada saat itu adalah siaran dari Televisi Republik Indonesia (TVRI), yang juga merupakan stasiun milik pemerintah. Sebagai stasiun televisi pemerintah TVRI pada perkembangannya lebih dijadikan sebagai alat propaganda pemerintah. Pemerintah sangat sadar bahwa televisi bisa menjadi alat propaganda yang efektif.
Perkembangan pertelevisian di Indonesia, baru dimulai ketika munculnya televisi swasta, adalah Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) yang menjadi stasiun televisi swasta pertama di Indonesia pada tahun 1989.
Setelah RCTI, muncul Surya Citra Televisi (SCTV). Lalu menyusul TPI, kemudian AN teve, Indosiar, Metro TV, TRANS TV, LA tivi, TV 7, Global TV dan entah siapa lagi yang bakal menyusul.
Perbedaaan kekuatan televisi Indonesia bila dibanding dengan media massa lain, adalah pada jangkauanya atau pada jumlah konsumen. Tengok saja, TVRI yang mampu menjangkau 82 persen penduduk Indonesia. Bagaimana dengan yang swasta? RCTI dengan perkiraan mampu menjangkau 135,9 juta pemirsa, indosiar dengan perkiraan 115,3 juta, SCTV sebanyak 128,2 juta dan TPI 100 juta. Dengan “kekuatan” ini maka televisi punya pengaruh yang besar dalam perkembangan moral dan budaya bangsa.
Tak dapat diingkari televisi sebagai magic box memiliki candu bagi masyarakat untuk terus menghabiskan waktu seharian dan sangat berpengaruh pada kehidupan psikologis seseorang. Karena candu yang dimiliki oleh televisi inilah yang membuat televisi dapat berperan sebagai sarana pembentukan moral dan kebudayaan masyarakat.
Dalam perannya untuk pembentukan moral dan budaya bangsa, maka televisi di sini harus mampu memainkan perannya dengan baik. Artinya televisi harus bisa membentuk moral dan budaya positif bagi bangsa, untuk itu maka dibutuhkan siaran-siaran televisi yang sifatnya edukatif atau mendidik. Namun apa yang kita terima malah praktek judi bahkan tayangan yang sungguh tidak mendidik kita. Hampir setiap saat kita disuguhi acara tentang kekerasan dan pornografi bukannya mendidik seperti yang di lakukan andrea hirata, denias, n film lainnya yang mendidik.

Taukah kalian bagaimana pemerintah menanggapi hal ini…???
Siaran televisi yang kurang mendidik ini banyak mendapat kecaman dari kalangan agamawan, tokoh pendidikan, ahli budaya, psikolog dan lain-lain. Majelis Ulama Indonesia (MUI), dengan tegas mengatakan prihatin terhadap tayangan televisi dan film yang mengandung pornografi, mistis maupun tindak kekerasan. Mentri Negara Komunikasi dan Informasi (pemerintahan Megawati) juga mengkritik sejumlah acara di media massa yang memuat tulisan dan gambar porno. Akan tetapi mungkin pemerintah tidak bisa bertindak tegas karena adanya undang-undang tentang pers yang berbunyi : Siapapun dilarang mencampuri materi tayangan atau siaran media massa.
DPR (1999-2004) sendiri sudah pernah mengadakan rapat bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), di mana pada rapat itu dihadiri juga oleh tokoh pendidikan Arif Rachman, psikolog Seto Mulyadi dan Rhoma Irama. Dalam rapat wakil ketua komisi I Efendy Choide menegaskan bahwa penghapusan tayangan-tayangan yang tidak mendidik tidak bisa lagi diulur-ulur. KPI sendiri pada saat itu menargetkan Standar Program Siaran dan Pedoman Perilaku Siaran akan rampung Agustus 2004. Akan tetapi sampai sekarang tayangan berbau pornografi, tayangan yang tidak mendidik dan kekerasan masih ada di layar kaca. Pertanyaannya sampai kapan hal ini berlangsung ?

By : Flagas