Psikopat secara harafiah berarti sakit jiwa, atau sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Sampai saat ini, pasien yang ditangani Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta, sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 – 35 tahun, usia yang masih cukup produktif untuk orang normal. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang.

Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang ‘normal’. Tindakannya berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Selain itu, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggungjawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).

Berikut beberapa ciri psikopat, jika orang yang dikenal melakukan tiga dari tujuh ciri di bawah ini :

  • Gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib
  • Berulang kali berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
  • Emosi meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan
  • Mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos Tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain
  • Tak bertanggungjawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang utang
  • Nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri

Orang yang menjadi psikopat berawal dari kurang mendapatkan cinta, kesetiaan, empati, dan rasa tidak bersalah. Mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan psikopat, akan terus mengulanginya lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu.

Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Sanatorium Dharmawangsa menegaskan, pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dan harus bekerja sama dengan banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah.

Sumber : http://www.beritanet.com