Banyak sudah kita jumpai dalam berbagai literasi managemen keorganisasian bahwa secara harfiah, berserikat/berkumpul atawa berorganisasi tercipta atas dasar dan keinginan yang dilandaskan pada “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Meminjam ungkapan kata bijak; pada tataran sederhana ini dianalogikan bahwa, jika lidi hanya sebatang maka sangat irasional tuk bisa membersihkan setiap “sampah” (baca;persoalan ‘red) yang dihadapi oleh organisasi tersebut. Akan tetapi jika bermacam lidi dari yg kecil sampai besar diorganisir dan disamakan perspektifnya dalam satu wadah maka kerja-kerja bersama bisa terimplementasi tuk tujuan organisasi kedepan.

Keikutsertaan & keterlibatan masa rakyat organisasi (anggota) dalam perumusan program minimum-maximum atau yg lebih kita kenal dengan pendiskusian program kerja yang bermuara pada rekomendasi perumusan kebijakan, hanya direspon secara konseptual keorganisasian, fatalnya lagi ialah bangunan logika yang didirikan oleh kebiasaan bersama, masih sebatas penafsiran bahwa ruang gerak & penggerak hanya untuk kalangan fungsionaris (pengurus ‘red) belaka dan cuma dipahami pada tingkat formal forum yang sifatnya insidental.sementara celah untuk itu cukup realistis dirasa jika logika forum yang kita pahami diluaskan lagi pada ruang publik (mading, blogspot dll) yang tersedia. Persoalan sederhana inilah yang menjadi titik kendala dalam menentukan apakah kita dikategorikan sebagai organisasi kader yang berkesadaran ataukah partisipan lokal yang berjiwa primordi-patriarkal.

Namun ada yang terlupakan dan nyaris tak terungkap disini; bahwa realitas bangunan kesadaran tidak kita kukuhkan pada mental berkesadaran, yang kemudian persoalan datang silih berganti selalu menjebak kita pada persoalan yang itu-itu saja. Wajar saja kiranya jika kontinuitas kader yang tidak terbangun menjadi batu sandungan bagi roda organisasi untuk terus bergerak. Sebab titik berat pemaknaan kader disini adalah anggota yang siap maju dan terus belajar dalam mengembangkan organisasi dalam skala lingkungan dan mentalitas diri yang berkesadaran matang dalam berpikir & bertindak.

Mestinya dicermati secara gamblang sabab-musabab bentukan benang merah diantara paparan tersebut diatas yang akan dijadikan arah pijakan sampai sejauh mana kita melangkah pada detik ini. Bukankah pijakan adalah bentuk nyata dari pilihan dimana kita bisa membuktikan keberadaan kita saat ini?sehingga cukup sudah alasan kita selama ini kalau kebiasaan menjadi tolak ukur kita untuk bertindak tapi selayaknya kita materialkan berbagai persoalan diatas sebagai kebutuhan mendasar kita hari ini, untuk kenapa? bagaimana? mengapa? dan alternatif apa yang harus kita dasari sebagai bangunan kesadaran kita.

Kenyataanlah yang mengajarkan pada kita semua bahwa kebutuhan ini cukup mendesak tuk kita sikapi. Sepintas memang kalau disengaja ini sangat sepele namun, kebutuhan mendesak kita hari ini adalah jika secara dewasa dicermati, dianalisis, dan dipertimbangkan apa penting persoalan ini, maka hal ini tidak bisa di abaikan begitu saja tapi harus kita apakan?Ini tugas mendesak rekan sekalian sebab: kesadaran adalah matahari1.

1WS Rendra

By djabrigh’99